Peningkatan Kadar Kolesterol dan Usia Pada Ibu Rumah Tangga
Pendahuluan
Penyakit yang disebabkan karena tingginya kadar kolesterol yang meliputi kadar trigliserida dan low density lipoprotein atau LDL (kolesterol total) menjadi salah satu penyumbang kematian tertinggi di Indonesia, dengan penyakit yang ditimbulkan yaitu hiperkolesterolemia, hiperlipidemia, jantung koroner, hipertensi, serta stroke (Hita Juliansyah, and Pranata 2022). Di Indonesia sendiri prevalensi hiperkolesterolemia terus meningkat, dimana pada usia 25 – 34 tahun prevalensi penyakit ini 9.30%, dan usia lebih dari 55 tahun sampai usia kurang dari 65 tahun 15.50% (Agustiyanti dkk., 2017). Berdasarkan data yang di release oleh world health organization atau WHO, memperlihatkan angka prevalensi penyakit yang diakibatkan karena tingginya kadar kolesterol di dalam tubuh terus meningkat. Seperti hipertensi dengan lebih dari 35%. Selain itu penyakit kardiovaskuler yang disebabkan oleh hiperkolesterolemia juga meningkat di Indonesia dengan 30% lejadian komplikasi pada penyakit jantung (cardiovascular disease) dan banyak ditemukan pada wanita dengan lebih dari 50% prevalensinya (Naue dkk., 2016).
Penyumbatan pada pembuluh darah juga dapat terjadi akibat peningkatan kadar kolesterol di dalam sistem sirkulasi. Penyumbatan ini dapat menyebabkan tekanan darah sitolik menjadi tinggi. Penyumbatan kolesterol membentuk plaque yang juga dapat menyebabkan penyakit aterosklerosis. Kadar kolesterol atau lemak LDL yang tinggi akan menyebabkan pembentukan foam cell yang juga dapat diperparah ketika penderita hiperkolesterolemia mengalami komplikasi diabetes (Husen dkk., 2021). Kedua penyakit ini akan meningkatkan produksi dan releasing spesies oksigen reaktif yang dapat menyebabkan peroksidasi lipid sel dan menyebabkan penyakit penyerta lainnya (Husen & Basuki, 2022). Kolesterol berlebihan merupakan faktor risiko utama untuk penyakit pembuluh darah. Di dalam sel, kolesterol didistribusikan dalam fraksi yang sensitif terhadap deterjen dan tahan deterjen, dengan jumlah kolesterol terbesar yang berada di membran seluler (Schneider et al., 2022). Penyimpangan dalam metabolisme kolesterol terjadi pada berbagai kanker manusia. Prekursor dan turunan kolesterol mendukung tumorigenesis dan melemahkan respons imun (Ediriweera, 2022). Kolesterol sangat penting untuk pembentukan mielin, tetapi juga dapat memodulasi mekanisme yang terlibat dalam respons imun adaptif (Evangelopoulos et al., 2022).
Pada dasarnya kolestrol atau lemak juga dibutuhkan oleh tubuh untuk metabolism atau Biosintesis dalam jumlah yang cukup. Dimana regenerasi sel, membrane sel lipid juga Membutuhkan lemak (Yani, 2015). Namun hal tesebut dapat menimbulkan efek samping atau Penyakit ketika distribusi dan perbandingan antara lemak LDL (low density lipoprotein), Trigliserida dan HDL (high density lipoprotein) tidak seimbang, dimana kadar LDL dan Trigliserida jauh lebih banyak dibandingkan dengan HDL (Artha dkk., 2017). Tingginya penyakit Hiperkolesterolemia juga dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah rendahnya Antusias dan keinginan masyarakat terutama ibu rumah tangga (IRT) untuk melakukan Pemeriksaan kadar kolesterol secara rutin. Kesibukan yang dimiliki oleh IRT juga menjadi salah Satu faktor, ditambah mengurus anak dan keengganan IRT melakukan pemeriksaan mandiri ke Fasilitas kesehatan masyarakat dengan membawa anak mereka yang mungkin masih kecil. Seiring Bertambahnya usia seseorang juga memungkinkan munculnya penyakit degeneratif lain yang Dipengaruhi oleh tingginya kadar kolesterol di dalam tubuh. Oleh karena itu perlu sekali dilakukan Monitoring dan observasi langsung di lapangan untuk mengetahui tingkat dan status kesehatan IRT berdasarkan kadar kolesterol total. Kurangnya aktivitas fisik seperti berolah-raga juga dapat Menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi hiperkolesterolemia pada wanita, khususnya Ibu rumah tangga (Zuhroiyyah dkk., 2017).
Pentingnya pemeriksaan Kolesterol total di dalam tubuh secara rutin, diharapkan menjadi Salah satu cara untuk mencegah dan mendeteksi secara dini kemungkinan potensi munculnya Penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar Kolesterol, sehingga penatalaksanaan dan Pengobatan penyakit hiperkolesterolemia dapat dilakukan sejak awal dan meminimalisir riskio Komplikasi (Wahyuni dkk., 2021). Tujuan dari studi ini adalah mengevaluasi dan mengetahui Kadar kolesterol pada ibu rumah tangga (IRT) dan hubungan dengan peningkatan status usianya, Sehingga dapat diketahui salah satu faktor risiko peningkatan kadar kolesterol didalam tubuh.
Metode
Metode yang dilakukan dan digunakan pada studi ini adalah metode analytical Descriptive dimana data penelitian dianalisis secara deskriptif berdasarkan hasil pemeriksaan Langsung kadar Kolesterol menggunakan alat GCU (Glucose Cholesterol and Uric Acid-Meter) @Easy Touch GCU-Meter – Bioptic Technology, dimana digunakan 2-3 µL sampel darah kapiler Yang kemudian diteteskan pada strip test cholesterol, dan hasil ditampilkan pada alat pengukur Secara langsung setelah 30-60 detik penetesan sampel darah kapiler pada strip test. Pendekatan Riset ini adalah cross-sectional approach dengan menggunakan 30 sampel responden ibu rumah Tangga (IRT) usia 25-80 tahun, dengan cara untuk pengambilan sampel melalui random sampling (purposive approach). Kriteria inklusi pada responden penelitian ini adalah perempuan yang Berprofesi sebagai ibu rumah tangga, tidak bekerja secara professional, sudah memiliki anak, Dalam kondisi sehat, belum/tidak sedang makan 4-5 jam sebelum pemeriksaan, dan tidak sedang Berhalangan dan mengkonsumsi obat-obatan dokter. Kriteria eksklusi pada studi ini adalah wanita Hamil/ mengandung, belum menikah, memiliki riwayat penyakit Kolesterol dan obesitas, serta Dibawah usia 30 tahun dan diatas 80 tahun. Data hasil pemeriksaan dan usia responden kemudianDianalisis dengan software SPSS v.26.0 dengan menggunakan analisis bivariate (uji korelasi) Dengan indeks pearson correlation, dimana rentang korelasi 0.00 – 1.00 (tidak berkorelasi – Berkorelasi sangat tinggi).
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian bahwa level atau nilai kolesterol pada ibu rumah tangga (IRT) dari 30 responden berada pada rentang 130 – 300 mg/dL.
Gambar 1 memperlihatkan rata-rata dari usia responden yang diukur kadar kolesterol totalnya adalah 47.87 tahun, dengan rata-rata kadar kolesterol 198.07 mg/dL. Dari hasil observasi rentang usia dari 30 responden adalah 25-80 tahun (Gambar 2). Rentang usia dengan jumlah dan persentase responden terbanyak adalah 25-35 tahun dengan 33% (10 responden), sementara responden dengan persentase terkecil pada rentang usia 36-45 tahun (3.33%), dan rentang usia 66-75 tahun (3.33%). Sementara itu terdapat 6.67% responden dengan usia tertinggi yaitu 80 tahun.Secara umum pada Gambar 2 memperlihatkan dimana distribusi responden berdasarkan dari data usia didominasi oleh IRT muda dan IRT dewasa tua (rentang usia 25-55 tahun). Pengukuran kadar kolesterol total didasarkan pada hasil pengukuran sewaktu dimana responden minimal tidak/belum makan selama 4-5 jam (untuk menghindari data yang tidak valid).Dikarenakan peningkatan level kolesterol juga dapat dipengaruhi dari asupan makanan yang dikonsumsi oleh seseorang. Kategori dan status responden didasarkan pada jumlah atau nilai kadar kolesterol total sesuai dengan Tabel 1.Tabel 1 digunakan sebagai dasar pengelompokan responden atau pengkategorian status responden dimana nilai yang digunakan yaitu level kolesterol total dengan kategori <200 mg/dL masuk pada level kolesterol baik, 200-239 mg/dL berada pada kategori perbatasan atau nilai toleransi untuk kadar kolesterol di dalam tubuh, serta >240 mg/dL masuk pada kategori bahaya. Hasil dari pengelompokan dan pengkategorian responden berdasarkan kadar kolesterol total ini,disajikan pada Gambar 3.Keterangan: KTB (Kategori Kolesterol Baik), KTP (Kategori Kolesterol Total Perbatasan), dan KTBH (Kategori Kolesterol Total Bahaya)Gambar 3 menunjukkan bahwa kadar kolesterol total dengan kategori baik (KTB) yaitu50% atau setengah dari responden yang dicek, dengan rentang kolesterol KTB yaitu 130 – 200mg/dL. Sementara itu kadar kolesterol untuk kategori perbatasan (KTP) yaitu 8 responden atau26.67% dengan rentang kadar kolesterol 200 – 234 mg/dL. Kategori bahaya (KTBH) memiliki rentang kadar kolesterol 245 – 297 mg/dL dengan persentase 23.33% atau 7 responden. Secaraumum distribusi kategori IRT berdasarkan kadar kolesterolnya berada pada kategori baik. Darihasil wawancara dengan responden juga menunjukkan bahwa seringkali mereka tidak merasakan apapun walaupun memiliki level nilai kolesterol >201 mg/dL.
Uji korelasi bivariate dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang kuatantara peningkatan kadar kolesterol pada IRT dengan bertambahnya usia. Hasil analisis bivariatedengan indeks pearson correlation disajikan pada Tabel 2.
Table 2 menunjukkan bahwa hasil analisis bivariate antara level kolesterol total dengandata usia responden yang memperlihatkan hasil sangat signifikan (p < 0.05). Hasil tersebut juga dapat menggambarkan bahwa terdapat hubungan antara pentingkatan kadar kolesterol di dalamtubuh dengan bertambahnya usia seseorang. Hasil ini juga dibuktikan dengan nilai dari indekspearson correlations antara kadar kolesterol (KK) dengan usia yaitu 0.723, yang bersifat positif. Hubungan korelasi positif ini menjelaskan bahwa pada responden yang diukur terjadi peningkatan seiring dengan bertambahnya usia (semakin bertambahnya usia/ semakin tua usia responden,kadar kolesterol total semakin meningkat/ tinggi). Hubungan tersebut juga berkorelasi sangat kuat karena indeks pearson correlations >0.70, rentang korelasi sangat kuat ini adalah 0.61 – 0.80,sementara jika nilai pearson correlations di bawah 0.60 berkorelasi sedang, dan di atas 0.80 berkorelasi sempurna.Pembahasan
Dari hasil riset ini memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikanantara peningkatkan kadar kolesterol dengan bertambahnya usia pada IRT. Studi yang pernahdilakukan sebelumnya dengan melakukan observasi pada responden dengan potensi mengalamihiperkolesterolemia, 70.10% diantaranya berjenis kelamin perempuan, dengan rata-rata usia IRTdiatas 55 tahun. Hal tersebut memperlihatkan bahwa semakin tinggi atau bertambahnya umurseseorang level kolesterol semakin meningkat (Ulfah dkk., 2016). Banyak faktor yang mempengaruhi selain meningkatnya usia, yaitu pola konsumsi nutrisi harian, pola hidup sehat dengan berolah-raga serta konsumsi vitamin, dimana tiap orang menunjukkan pola yang berbeda-beda (Agustiyanti dkk., 2017).
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa pada pemeriksaan orang yang memiliki riwayat hipertensi, 67% diantaranya adalah wanita dengan kadar kolesterol >200 mg/dL dan dikategorikan sebagai hiperkolesterolemia. Sementara 33% lainnya adalah laki-laki, dari 150responden pasien yang diperiksa. Hal ini juga membuktikan selain tingginya penyakit hiperkolesterolemia pada wanita, juga menunjukkan terdapat hubungan antara tingginya kadar tekanan darah dengan kejadian hiperkolesterolemia (Sugiarti & Latifah, 2017). Penyumbatan yang terjadi pada arteri, banyaknya plaque yang terbentuk dan menghambat aliran darah, menjadi salah satu penyebab atau faktor penunjang yang menyebabkan tensi atau tekanan di dalam darah meningkat atau tinggi (hipertensi) (Husen & Basuki, 2022). Gaya hidup pasien dengan kadar kolesterol tinggi cenderung buruk yang berpotensi memicu penyakit kardiovaskular. Stres kronis pada populasi ini juga diduga terkait dengan gaya hidup yang buruk (Lainsamputty & Gerungan,2022).
Penelitian sebelumnya yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa kategori penyakit hiperkolesterolemia ada tiga yaitu dengan kadar kolesterol total <200 mg/dL (kategori cukup/rendah), 200-239 mg/dL (kategori sedang/ intermediet), dan kategori tinggi/ sangat berisiko(dengan kadar kolesterol total >240 mg/dL). Pada riset yang telah dilakukan sebelumnya juga menunjukkan bahwa kadar kolesterol total pada penduduk/ warga di Desa Rejoagung, khususnya dusun Sidomulyo menunjukkan bahwa terdapat sekitar 38.30% warga mengalami hipertensi cukup/ kondisi baik, 52.90% warga mengalami hiperkolesterolemia dengan kategori intermediet atau perbatasan, dan sekitar 8.80% warga menderita hiperkolesterolemia dengan kategori bahaya atau tinggi. Rentang usia yang dijumpai pada responden didominasi antara 46-65 tahun dengan 58.80% dari total responden, dan sekitar 20,60% berusia lebih dari 65 tahun. Selain itu dari total responden dengan level kolesterol >201 mg/dL tersebut, juga memperlihatkan bahwa warga mengalami hipertensi derajat 2 dengan 41.20% serta derajat 3 dengan 17.60%, dan terdapat korelasi atau hubungan yang sangat kuat antara peningkatkan level kolesterol, tekanan darah dan tingginya usia pada responden (p < 0.05) (Maryati, 2017). Dewasa ini kosumsi makanan harian telah beralih ke arah gaya dan cara makan dengan kandungan level kolesterol yang cukup besar seperti junk food atau siap saji yang merugikan, makanan laut yang too much garam, serta makanan dengan kandungan fatty acid yang menjadi faktor utama dan sangat besar terhadap tingginya level kolseterol serum darah pada warga (Marbun, 2019). Peningkatan level kolesterol di dalam tubuh juga diperngaruhi oleh peningkatan radikal bebas dan kadar glukosa yang meningkat dalam sistem sirkulasi (Ratnaningtyas et al., 2022)
Hasil studi ini menunjukkan bahwa rata-rata wanita IRT memiliki level kolesterol yang sangat tinggi (abnormal). Dari hasil tersebut juga sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kategori hiperkolesterolemia di RS Umum Daerah Abdoel Moeloek didominasi oleh pasien atau responden peremuan dengan persentase 63.33%, dan sisanya yaitu 37.77% merupakan pasien laki-laki. Selain itu rata-rata total level kolesterol pada seluruh pasien berada pada kategori perbatasan dengan >228 mg/dL. Jika dikelompokan lagi, ada sekitar 13.30% pasien obesitas dengan hiperkolesterolemia dengan levels kolesterol total di rentang 200-239 mg/dL, dan sekitar 41.10% memiliki level kolesterol total >240 mg/dL. Dilihat dari rentang usia, pasien dengan hiperkolesterolemia juga didominasi pada rentang usia 41-80 tahun, dengan 38.90% usia 31-60 tahun, 37.90% usia 41-50 tahun, serta 17.80% usia 61-70 tahun dan 3.30% <80 tahun dan diatas 71 tahun (Ujiani, 2015). Hal ini juga berkorelasi dengan riset yang telah dilakukan terdahulu tepatnya di kelurahan Tanjung, Purwokerto selatan ini, dimana rata-rata usia didominasi oleh wanita dewasa tua >45 tahun. Dan terdapat hubungan yang kuat, atau korelasi yang kuat antara level HbA1c dengan level kolesterol serum total yang diukur (Susilo dkk., 2020).
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan hubungan yang sangat berkorelasi antara kadar kolesterol di dalam tubuh, usia dan tekanan darah (tensi), dengan level korelasi yang sangat signifikan. Tingginya kadar kolesterol pada orang berusia >45 tahun juga dapat disebabkan karena adanya penimbunan dan akumulasi zat kolagen pada lapisan-lapisan otot, hal tersebut juga berdampak pada peningkatkan tekanan darah karena menyebabkan penyempitan dan peningkatan vasokontriksi pada pembuluh darah (Yusvita dkk., 2022). Seiring bertambahnya usia seseorang penimbunan zat lemak jahat atau LDL juga lebih tinggi, karena diperparah oleh peningkatan radikal bebas di dalam tubuh. Tingginya kadar kolesterol di dalam tubu dapat mengarahkan pada penyakit penyerta lain seperti gangguan kardiovaskuler, serangan jantung dan gagal ginjal (Hita dkk., 2022). Pembuluh darah yang menyempit dapat menyebabkan tekanan meningkat (hipertensi) dan dapat menyebabkan pembuluh darah pecah, yang akhirnya menyebabkan stroke apabila pembuluh darah otak pecah dan atau pendarahan internal. Hiperkolesterolemia juga merupakan suatu kondisi dimana gangguan lemak dalam darah atau dislipidemia dengan kadar kolesterol tota >240 mg/dL (Jempormase dkk., 2016). Dilakukannya edukasi atau pengajaran terhadap pasien dengan riwayat penyakit obesitas baik dilakukan sebelum amupun sesudah, juga menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan terhadap penurunan nilai level kolesterol serum total di dalam tubuh (Dewi dkk., 2020)
Simpulan dan Saran
Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan atau korelasi yang kuat antara peningkatan level kolestrol di dalam tubuh dengan penambahan usia. Saran melakukan monitoring danpengukuran terhadap tekanan darah yang mungkin dipengaruhi oleh meningkatnya level atau nilai kolesterol total yang ada di dalam tubuh.
Comments
Post a Comment